Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Kekayaan: Antara yang terpuji dan yang tercela

on September 5, 2012

Oleh: Fahmi Islam Jiwanto, MA
Mungkin semua sepakat bahwa kekayaan adalah hal yang
menarik, yang diinginkan dan didambakan oleh hampir
semua orang. Akan tetapi siapa sangka bahwa ternyata
tidak semua jenis dan kondisi kekayaan, kebercukupan,
dan keberadaan adalah hal yang terpuji. Al-Qur’an
ternyata menunjukkan bahwa Allah tidak selalu berpihak
apalagi memuji orang kaya.
Dalam ayat al-Qur’an dan hadits Nabi saw kita temukan
dua istilah yang berarti kekayaan. Ada istilah ghina (kaya)
ada istilah tarof (mewah). Keduanya menunjukkan makna
kekayaan, kebercukupan dan keberadaan. Tapi nash-nash
al-Qur’an dan as-Sunnah punya sikap yang berbeda
dengan kedua istilah tersebut.
Dalam al-Qur’an pemakaian akar kata ghina jarang dipakai
untuk konteks mengecam. Al-Qur’an memakai kata
ghaniyy untuk mengungkapkan sifat Allah Yang Maha
Kaya. Sedangkan untuk manusia Allah memakai bentuk
jamak (aghniya’) yaitu orang-orang kaya, seperti di surat
al-Baqarah ayat 273, Ali Imran 181, dan at-Taubah 93
semuanya dalam bentuk nakirah (indefinite) dan dalam
surat al-Hasyr ayat 7 dalam bentuk ma’rifah (definite).
Dalam ayat-ayat tersebut Allah tidak menganggap
kekayaan sebagai sesuatu hal yang tercela. Di Ali Imran
181 Allah swt mengecam orang-orang Yahudi mengaku
kaya dan mengatakan Allah fakir, subhanallah!!! Kekayaan
itu sendiri tidak dipermasalahkan tetapi kesombongan dan
keangkuhan mereka yang Allah swt kecam. Di surat at-
Taubah 93 Allah swt mengecam orang-orang yang tidak
ingin berjihad padahal mereka berkecukupan dan mampu
untuk berjihad. Kekayaan di sini justru menjadi sarana
yang mengharuskan untuk berjuang. Selain kedua ayat
tadi Allah swt menyebutkan kata aghniya’ dengan netral.
Kalau kita lihat hadits Nabi saw kita akan temukan sikap
yang sama terhadap ghina dan akar katanya. Rasulullah
saw bahkan memuji kondisi kaya dalam banyak hal
misalnya dalam hadits riwayat imam Muslim:
“Sedekah terbaik adalah yang dikeluarkan dalam keadaan
cukup (kaya), dan tangan di atas lebih baik dari tangan di
bawah, dan mulailah dari keluargamu.” (HR Muslim)
Dalam hadits ini Rasulullah saw memuji kondisi
kebercukupan dan bahwa sedekah sebaiknya dilakukan
ketika seseorang dalam keadaan mampu. Lebih jauh lagi
Rasulullah saw menyatakan bahwa yang memberi lebih
baik dari yang hanya menerima. Dan itu adalah pujian bagi
kondisi kaya.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sa’d bin Abi
Waqqash, Rasulullah saw bahkan mengatakan bahwa
kondisi kaya bagi ahli waris lebih baik dari kondisi miskin
tak berdaya. Rasulullah saw bersabda kepada Sa’d:
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu
dalam keadaan kaya lebih baik dari pada engkau
tinggalkan mereka miskin meminta-minta kepada
orang.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Meskipun juga Rasulullah saw tidak mengajarkan kita
untuk menjadi materialistis, menganggap bahwa kekayaan
materi adalah segalanya. Rasulullah saw berkata bahwa
“Kekayaan bukanlah dengan banyaknya materi tetapi
kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR al-Bukhari dan
Muslim).
Rasulullah saw mengecam kekayaan ketika kekayaan
mendorong orang untuk berbuat dan bersikap melebihi
batas. Dalam hadits riwayat a-Turmudzi Rasulullah saw
mencela ghinan muthghiyan yang berarti kekayaan yang
membuat seseorang menjadi berlebih-lebihan.
Itu tadi tentang istilah ghina, bagaimana dengan istilah
tarof? Kita temukan dalam al-Qur’an bahwa orang-orang
yang mutrof (bermewah-mewahan) selalu dikecam.
Kata tarof dan akar katanya disebutkan tiga kali dalam al-
Qur’an dan ternyata semua bernada mengecam.
Kita lihat bagaimana surat al-Waqi’ah berbicara tentang
“golongan kiri” yang merupakan penduduk neraka. Di ayat
45 Allah menyebutkan sifat mereka:
“Sesungguhnya mereka sebelumnya (ketika di dunia)
adalah orang yang bermewah-mewahan.” (QS. Al Waqi’ah:
45)
Secara kasat mata kita juga dapat melihat kebanyakan
orang-orang yang tenggelam dengan dosa dan
kemaksiatan adalah orang-orang yang terlena dengan
kekayaan harta sehingga mereka lalai bahwa kehidupan
yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat.
Kita baca lagi surat al-Israa’, dalam ayat ke 16 Allah swt
berfirman:
“Dan jika Kami ingin menghancurkan sebuah negeri, Kami
perintahkan orang-orang yang bermewah-mewahan dari
mereka sehingga mereka berbuat dosa di negeri itu, lalu
mereka berhak mendapakan ketentuan (azab), dan Kami
hancurkanlah negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. al-
Israa’: 16)
Ayat ini berbicara tentang sebuah sunnatullah, yang
berlaku pada setiap kondisi yang analog. Bukan hanya
pada kasus tertentu. Karena itu Allah swt memakai kata
“Idza” (jika) yang berarti syarat dari sebuah proses sebab
akibat.
Allah swt menyatakan bahwa proses kehancuran sebuah
komunitas dimulai ketika elit masyarakatnya berbuat fasiq.
Jika kefasikan bermula dari elitnya maka akan dengan
mudah menyebar, ditiru atau ditularkan kepada seluruh
masyarakat. Dan akhirnya merajalela kemaksiatan yang
berakibat pada kehancuran komunal, tidak terbatas pada
orang-orang tertentu saja.
Dalam surat Hud juga ditemukan bagaimana pengaruh
orang-orang yang bermewah-mewahan itu. Allah swt
berfirman pada ayat 116:
“Dan orang-orang yang zhalim mengikuti kemewahan yang
ada pada mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang
berdosa.” (QS. Hud: 116)
Ayat tersebut berbicara tentang perilaku orang-orang
terdahulu di mana sulit ditemukan orang-orang yang mau
melarang kemungkaran. Hal itu diperparah dengan
kenyataan bahwa orang-orang kaya lebih suka memikirkan
kekayaannya dan tenggelam dalam kemewahan dan
kenikmatan duniawi sesaat.
Dari sini secara umum kita bisa melihat perbedaan antara
kekayaan yang terpuji dan kesejahteraan yang layak
diperjuangkan, dengan kemewahan dan kehidupan
glamour yang tidak dipuji bahkan dikecam oleh al-Qur’an.
Layak untuk direnungkan bagi kita terutama bangsa
Indonesia yang sedang berjuang meraih kesejahteraan
agar menyadari bahwa capaian materi yang diajarkan oleh
Islam bukanlah kehidupan yang glamour dan berfoya-
foya. Al-Qur’an membedakan antara kekayaan yang terpuji
dengan kemewahan yang tercela.
Lantas apa makna pembedaan itu? Mengapa perlu
dibedakan?
Maknanya adalah Allah swt membolehkan bahkan
mendorong adanya kekayaan bukan untuk dinikmati
didunia ini semata-mata. Tetapi untuk diberikan kepada
yang berhak, diinfakkan pada hal-hal yang bermanfaat
bagi kepentingan umum, untuk membela agama dan
negara, serta tujuan-tujuan mulia lainnya. Sedangkan
kekayaan yang hanya digunakan untuk berfoya-foya dan
bahkan untuk menyombongkan diri, adalah bencana yang
hanya mencelakakan sang pemiliknya saja.
Perilaku-perilaku Tarof
Al-Qur’an juga memberikan beberapa ilustrasi tentang
perilaku yang Allah swt benci dalam bersikap terhadap
harta.
Pertama, Menganggap Kekayaan sebagai Simbol
Kemuliaan
Di antara perilaku yang Allah swt kecam dalam berinteraksi
dengan harta adalah menganggap bahwa harta yang
banyak berarti kemuliaan di sisi Allah. Allah swt berfirman
dalam surat al-Fajr:
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu
dimulaikan-Nya dan diberi-Nya kenikmatan maka dia
berkata, “Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila
Tuhannya mengujinya lalu dibatasi rejekinya maka dia
berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’. Sekali-kali tidak
(demikian)!” (QS al-Fajr: 15-17)
Allah swt secara tegas menyalahkan persangkaan orang
bahwa harta adalah ukuran kemuliaan. Karena memiliki
sesuatu tidak berarti apa-apa, jika tidak bermanfaat bagi
orang lain. Kepemilikan itu bukanlah kepemilikan hakiki,
hanya sekedar titipan yang harus diberikan kepada yang
berhak.
Kedua, Bangga dengan Konsumerisme Yang Berlebihan
Di antara perilaku tarof yang Allah swt kecam adalah
berbangga dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Allah swt
menyindir orang yang seperti ini di dalam surat al-Balad:
6.
“Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang
banyak.” (QS al-Balad: 6)
Kita banyak temukan sikap-sikap seperti ini pada orang-
orang yang menganggap bahwa prestise dan image positif
dibentuk dengan fasilitas-fasilitas yang mewah, tingkat
konsumsi yang tinggi, dan penampilan yang wah. Padahal
harta dalam pandangan Allah swt adalah cobaan yang
akan dipertanggung jawabkan nanti di akhirat, dari mana
mendapatkannya dan untuk apa dipergunakannya. Tidak
ada sama sekali pertanyaan berapa kamu menghasilkan
harta?
Ketiga, Merendahkan Orang Miskin
Di antara sikap-sikap tercela mengenai kekayaan adalah
bukan hanya berbangga dengan kekayaan diri bahkan juga
menganggap rendah orang yang lebih sedikit harta. Dalam
surat al-Kahfi Allah swt bercerita tentang dua sahabat
yang berbeda tingkat ekonominya. Allah swt berfirman:
“Dan berikanlah untuk mereka perumpamaan dua orang
yang Kami berikan kepada salah seorang dari mereka dua
kebun anggur dan Kami kelilingi dua kebun itu dengan
pohon-pohon korma dan Kami jadikan di antara dua
kebun itu ladang. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya
dan kebun itu tidak berkurang hasilnya sedikitpun, dan
Kami alirkan sungai di celah-celah kebun itu. Dan dia
mempunyai hasil yang besar, lalu berkatalah dia kepada
kawannya ketika bercakap-cakap dengannya, ‘Hartaku
lebih banyak dari hartamu, dan orang-orangku lebih
kuat.’ (QS al-Kahfi: 32-34).
Keempat, Tidak Berusaha Menolong Orang Miskin
Perilaku buruk lain yang sering dikecam al-Qur’an adalah
ketidakpedulian terhadap orang-orang miskin. Kita bisa
temukan kecaman al-Qur’an dalam hal ini misalnya pada
surat al-Haqqah ayat 34, al-Ma’un ayat 3, al-Fajr ayat 17,
an-Nisa ayat 37, al-Hadid 24.
Kelima, Memamerkan Kekayaan di Hadapan Orang Miskin
Di antara perilaku orang kaya yang dicela al-Qur’an adalah
memamerkan kekayaan dan membanggakan penampilan
materi, sebagaimana Allah swt ceritakan tingkah Qarun
dalam surat al-Qashash dari ayat 79. Di dalam ayat-ayat
tersebut Allah swt menggambarkan betapa Qarun yang
begitu kaya raya itu bertingkah sombong dan pamer
kekayaan.
Keenam, Menyandarkan Kekayaan kepada Kemampuan
Pribadi
Perilaku lain yang dikecam al-Qur’an terkait kekayaan
adalah mengkalim bahwa kekayaan dihasilkan semata-
mata karena kemampuan pribadi. Sebagaimana Qarun
dengan congkak mengatakan bahwa kekayaannya adalah
karena ilmu yang ada padanya (QS. al-Qashash ayat 78).
Juga dalam surat az-Zumar Allah swt menegur manusia
yang jika diberi nikmat dia mengatakan bahwa hal itu
semata dikarenakan karena kelebihan yang ada pada
dirinya. Sikap yang benar yang harus dilakukan manusia
adalah sikap yang dicontohkan oleh Nabi Sulaiman as yang
mengatakan ketika mendapatkan nikmat, beliau
mengatakan, ”Hadza min fadhli rabbi liyabluwani a’asykuru
am akfur. Ini adalah karunia Tuhanku untuk mengujiku,
apakah aku bersyukur atau ingkar.” QS. An Naml : 40.
Harta pada hakekatnya hanyalah cobaan yang harus
dipertanggung jawabkan, bukan kebanggaan yang harus
dikejar. Allahu A’lam.[]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: