Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Menjual waktu dengan pahala

on September 6, 2012

Oleh: Muhammad Nuh
dakwatuna.com – “Belumkah datang waktunya bagi
orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah
turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti
orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-
Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang
panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.
Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang
yang fasik .” (Al-hadid: 16)
Maha Suci Allah yang menggantikan malam dengan
siang dan sore pun menyongsong malam. Hari
berlalu menyusun pekan. Hitungan bulan-bulan pun
membentuk tahun. Tanpa terasa, pintu ajal kian
menjelang. Sementara, peluang hidup tak ada
siaran ulang.
Siap atau tidak, waktu pasti akan meninggalkan kita
Sejauh apa pun satu tahun ke depan jauh lebih
dekat daripada satu detik yang lalu. Karena waktu
yang berlalu, walaupun satu detik, tidak akan bisa
dimanfaatkan lagi. Ia sudah jauh meninggalkan kita.
Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita
miliki. Pagi ini adalah pagi ini. Kalau datang siang,
ia tidak akan pernah kembali. Kalau kesempatan di
pagi ini lewat, hilang sudah momentum yang bisa
diambil. Karena, belum tentu kita bisa berjumpa
dengan pagi esok.
Itulah yang pernah menggugah Umar bin Abdul
Aziz. Suatu malam, karena sangat lelah, Umar
menolak kunjungan seorang warga. “Esok pagi
saja!” ucapnya spontan. Khalifah Umar berharap
esok pagi ia bisa lebih segar sehingga urusan bisa
diselesaikan dengan baik.
Tapi, sebuah ucapan tak terduga tiba-tiba
menyentak kesadaran Khalifah kelima ini. Warga itu
mengatakan, “Wahai Umar, apakah kamu yakin
akan tetap hidup esok pagi?” Deg. Umar pun
langsung beristighfar. Saat itu juga, ia menerima
kunjungan warga itu.
Kalau kita menganggap remeh sebuah ruang waktu,
sebenarnya kita sedang membuang sebuah
kesempatan. Kalau pergi, kesempatan tidak akan
kembali. Ia akan pergi bersama berlalunya waktu.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
dalam kerugian .” (Al-Ashr: 1-2)
Siap atau tidak, jatah waktu kita terus berkurang
Ketika seseorang sedang merayakan hari ulang
tahun, sebenarnya ia sedang merayakan
berkurangnya jatah usia. Umurnya sudah berkurang
satu tahun. Atau, hari kematiannya lebih dekat satu
tahun. Dalam skala yang lebih luas, pergantian
tahun adalah berarti berkurangnya umur dunia.
Atau, hari kiamat lebih dekat satu tahun dibanding
tahun lalu.
Ketika jatah-jatah waktu itu terus berkurang,
peluang kita semakin sedikit. Biasanya, penyesalan
datang belakangan. “Dan pada hari itu diperlihatkan
neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah
manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu
baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya
aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku
ini.” (Al-Fajr: 23-24)
Tak banyak yang sadar, begitu banyak peluang
menghilang
Kadang, seseorang menganggap biasa mengisi hari-
hari dengan santai, televisi, dan berbagai mainan.
Bahkan ada yang bisa berjam-jam bersibuk-sibuk
dengan video game . Sedikit pun tak muncul rasa
kehilangan. Apalagi penyesalan.
Padahal kalau dihitung, amal kita akan terlihat
sedikit jika dibanding dengan kesibukan rutin lain.
Dengan usia tiga puluh tahun, misalnya. Selama itu,
jika tiap hari seorang tidur delapan jam, ternyata ia
sudah tidur selama 87.600 jam. Ini sama dengan
3.650 hari, atau selama sepuluh tahun. Dengan kata
lain, selama tiga puluh tahun hidup, sepertiganya
cuma habis buat tidur.
Jika orang itu menghabiskan empat jam buat
nonton televisi, setidaknya, ia sudah menonton
televisi selama 43.200 jam. Itu sama dengan 1.800
hari, atau lima tahun. Bayangkan, dari tiga puluh
tahun hidup, lima tahun cuma habis buat nonton
teve. Belum lagi urusan-urusan lain. Bisa ngobrol,
curhat, ngerumpi, jalan-jalan, dan sebagainya.
Lalu, berapa banyak porsi waktunya buat ibadah?
Kalau satu salat wajib menghabiskan waktu sepuluh
menit, satu hari ia salat selama lima puluh menit.
Ditambah zikir dan tilawah selama tiga puluh menit,
ia beribadah selama delapan puluh menit per hari.
Jika dikurangi sepuluh tahun karena usia kanak-
kanak, ia baru beribadah selama 1.600 jam. Atau,
1,8 persen dari waktu tidur. Atau, 3,7 persen dari
lama nonton teve.
Betapa banyak peluang yang terbuang. Betapa
banyak waktu berlalu tanpa nilai. Maha Benar Allah
dalam firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya
manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali,
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3)
Tak seorang pun tahu, kapan waktunya berakhir
Tiap yang bernyawa pasti mati. Termasuk, manusia.
Kalau dirata-rata, usia manusia saat ini tidak lebih
dari enam puluhan tahun. Atau, setara dengan dua
belas kali pemilu di Indonesia. Waktu yang begitu
sedikit.
Saatnya buat orang-orang beriman memaknai
waktu. Biarlah orang mengatakan waktu adalah
uang. Orang beriman akan bilang, “Waktu adalah
pahala!”
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/menjual-
waktu-dengan-pahala/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: