Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Di Saat Impian Belum Terwujud

on September 7, 2012

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan
salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para
sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik hingga akhir zaman.
Setiap orang pasti memiliki impian dan cita-cita. Berbagai
usaha pun dikerahkan untuk mencapai impian tersebut.
Namun kadang usaha untuk menggapai impian kandas di
tengah jalan dikarenakan berbagai rintangan dari dalam
maupun dari luar. Tentu saja impian yang kami
maksudkan di sini adalah impian yang logis yang bisa
dicapai dan bukan hanya khayalan di negeri antah
berantah. Di saat impian tadi belum terwujud,
bagaimanakah cara untuk menggapainya? Semoga tulisan
ini bisa memberikan solusi terbaik.
Belajar dari Kisah Ibrahim ‘alaihis salam dan Istrinya
Suatu pelajaran yang patut dicontoh adalah kisah Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam bersama istrinya, Sarah. Lihatlah
impiannya untuk memiliki anak sekian lama, akhirnya bisa
terwujud. Padahal ada tiga sebab yang menjadi
penghalang ketika itu. Sarah sudah sangat tua, Ibrahim
pun demikian dan Sarah adalah wanita yang mandul. [1]
Ada ulama yang berpendapat bahwa ketika anaknya Ishaq
itu lahir, Sarah berusia 90-an tahun dan Ibrahim berusia
100-an tahun. [2] Namun di usia sudah sangat senja
seperti itu, Allah Ta’ala memudahkan mereka memiliki
anak, yaitu Ishaq yang akan menjadi seorang Nabi.
Mengenai kisah Ibrahim dan Sarah, kita dapat melihat
dalam dua surat. Dalam kisah mereka, Allah Ta’ala
menceritakan kedatangan tamu (para malaikat). Ia pun
dan istrinya menjamu mereka dengan sangat baiknya dan
malaikat tersebut membawa kabar gembira pada Ibrahim
dan Sarah atas kelahiran Ishaq,
“(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim
merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata:
“Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar
gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang
alim (Ishak). Kemudian isterinya datang memekik lalu
menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah)
seorang perempuan tua yang mandul”.  Mereka berkata:
“Demikianlah Tuhanmu memfirmankan” Sesungguhnya
Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. ” (QS.
Adz Dzariyaat: 24-30)
Dalam surat Huud, Allah Ta’ala menceritakan,
“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum,
maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang
(kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya)
Ya’qub. Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan,
apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah
seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam
keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-
benar suatu yang sangat aneh.” ” (QS. Huud: 71-72)
Lihatlah bagaimana impian Sarah dan Ibrahim untuk
memiliki anak baru terwujud setelah mereka berada di
usia sangat-sangat tua. Ketika menyebutkan kisah ini, Allah
Ta’ala pun mengatakan di akhir kisah bahwa Allah itu Al
‘Alim (Maha Mengilmui) dan Al Hakim (Maha Bijaksana).
Artinya, Allah Ta’ala memiliki ilmu yang sempurna.
Sedangkan Allah itu Al Hakim menunjukkan bahwa Allah
memiliki kehendak, keadilan, rahmat, ihsan, dan kebaikan
yang sempurna. Di samping itu Allah Ta’ala pun betul-
betul menempatkan sesuatu pada tempatnya. Inilah
pelajaran di balik nama Allah Al Alim dan Al Hakim. [3]
Suatu yang mustahil dapat terjadi jika Allah menghendaki.
Suatu impian yang sulit terwujud dapat digapai dengan
kekuasaan Allah. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi
kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf:
21). Maha Mulia Allah Ta’ala dengan segala sifat-sifatnya
yang maha sempurna.
Pahamilah Takdir Ilahi
Ketahuilah setiap yang terjadi di muka bumi ini sudah
tercatat di Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun yang lalu
sebelum penciptaan langit dan bumi. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum
50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR.
Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)
Jika seseorang mengimani takdir ini dengan benar, maka ia
pasti akan memperoleh kebaikan yang teramat banyak.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan
adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki
pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak
akan terjadi.” (Al Fawaid, hal. 94) [4]
Yang Allah takdirkan tidaklah sia-sia. Pasti ada hikmah di
balik itu semua. Allah Ta’ala berfirman,
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami
menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa
kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha
Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain
Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al
Mu’minun: 115-116)
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami
tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq.” (QS.
Ad Dukhan: 38-39).
Oleh karena itu, jika impian itu belum terwujud, maka
perlu kita pahami bahwa itulah ketentuan Allah. Allah
menjanjikan hikmah di balik itu semua karena sifat hikmah
yang sempurna yang Dia miliki.
Terus Tawakkal dan Berusaha Semaksimal Mungkin
Kita harus punya sifat optimis dengan selalu bertawakkal
(menyandarkan hati pada Allah) dan tetap berusaha untuk
menggapai impian yang kita cita-citakan. Ingatlah bahwa
siapa saja yang bertakwa dan bertawakkal pada Allah
Ta’ala dengan sebenar-benarnya, maka pasti Allah Ta’ala
akan memberikan ia jalan keluar dan akan memberikan ia
selalu kecukupan. Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki
dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa
yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)
Perlu diperhatikan bahwa impian bukan sekedar angan-
angan yang tidak ada realisasinya. Jika impian ingin
dicapai, tentu harus ada usaha semaksimal mungkin.
Cobalah kita saksikan contoh gampangnya adalah seekor
burung ketika ia ingin menggapai impiannya untuk
memperoleh makanan di hari itu, dia pun pergi ke luar
sarangnya untuk mencari hajat yang ia butuhkan. Ketika
pulang pun ia dalam keadaan tenang. Inilah yang
diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah,
sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana
burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada
pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya
dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu
Majah dan Ibnu Hibban dari Umar bin Al Khottob;derajat
hasan). Lihatlah bagaimana seekor burung saja
mewujudkan impiannya dengan mencari rizki, dengan
berusaha semaksimal mungkin. Bagaimanakah lagi kita
selaku insan yang diberi anugerah akal oleh Sang Kholiq?
Teruslah Memohon pada Allah
Untuk mewujudkan impian, janganlah lupakan Yang Di
Atas. Kadang kita lalai dan hanya bergantung pada diri kita
sendiri yang lemah dan tidak memiliki kemampuan apa-
apa. Maka perbanyaklah do’a. Karena setiap do’a pastilah
bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu.” (QS. Al Mu’min: 60)
Jika ada yang bertanya, “Aku sudah seringkali berdo’a,
namun mengapa impianku belum tercapai juga?” Kami
bisa memberi jawaban sebagai berikut:
Pertama: Do’a boleh jadi terkabul, namun kita saja yang
tidak mengetahui bentuk terkabulnya. Terkabulnya do’a
bisa jadi dengan dipalingkan dari kejelekan dari do’a yang
kita minta. Dan boleh jadi Allah simpan terkabulnya do’a
tadi di akhirat kelak. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabdaِ,
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah
selama tidak mengandung dosa dan memutuskan
silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri
padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan
do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat
kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan
yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau
begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti
yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR.
Ahmad, dari Abu Sa’id; derajat hasan)
Contohnya seseorang berdo’a, “Allahummar-zuqnii,
Allahummar-zuqnii” (Ya Allah, berilah aku rizki. Ya Allah,
berilah aku rizki). Boleh jadi do’a tersebut, Allah kabulkan
segera atau diakhirkan. Allah Ta’ala Maha Mengetahui
yang terbaik untuk hamba tersebut. Bahkan boleh jadi
pula, Allah simpan do’a tersebut untuk meninggikan
derajatnya di surga. Ini tentu saja lebih tinggi dari
kebahagiaan di dunia. Kebahagiaan di akhirat kelak tentu
jauh berbeda dari kebahagiaan di dunia. Malik bin Dinar
mengatakan,
“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan
akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja
seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu
tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Lalu
bagaimana lagi jika akhirat itu adalah emas yang akan
kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang akan fana?” [5]
Kedua : Terkabulnya do’a boleh jadi diakhirkan agar
seseorang tetap giat dan bersemangat dalam berdo’a.
Ketika ia giat berdo’a, maka ia pun akan mendapatkan
ketinggian derajat di akhirat kelak. Cobalah kita perhatikan
apa yang terjadi pada para Nabi ‘alaihimush sholaatu wa
salaam. Mereka terus saja berdo’a dan memperbanyak
do’a, namun terkabulnya do’a mereka diakhirkan agar
mereka tetap semangat dalam berdo’a. Di antara
contohnya adalah Nabi Ayyub ‘alaihis salam yang diberi
cobaan penyakit selama 18 tahun sehingga ia pun dijauhi
kerabat dan yang lainnya. Namun ia tetap terus berdo’a
dan berdo’a. Allah pun memujinya karena kesabarannya
tersebut,
“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang
sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat
taat (kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 44)[6]
Ketiga : Boleh jadi do’a tersebut sulit terkabul karena
beberapa faktor penghalang. Di antara faktor penghalang
adalah seseorang mengangkat tangan ke langit, namun ia
sering mengkonsumsi makanan, minuman dan
menggunakan pakaian yang haram atau diperoleh dari
hasil yang haram (sebagaimana disebut dalam hadits
riwayat Muslim no. 1015, dari Abu Hurairah). Inilah yang
membuat do’a seseorang sulit terkabul. Oleh karena itu,
sudah sepantasnya kita rajin mengintrospeksi diri, siapa
tahu do’a kita tidak kunjung terkabul karena sebab
mengkonsumsi yang haram.
Penutup
Teruslah berusaha, memohon pada Allah, dan janganlah
putus asa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah
daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap
memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang
bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan
engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka
janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan
demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau
katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah
Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law
(seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR.
Muslim no. 2664, dari Abu Hurairah)
Jadikanlah impian kita semata-mata untuk tujuan akhirat
dan bukan dunia semata. Jika ingin meraih kekayaan,
jadikanlah ia sebagai amal sholih untuk tujuan akhirat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai
akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam
hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai
berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina
padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk
menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak
pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan
keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang
telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465, shahih)
Ketika impian tercapai, maka perbanyaklah syukur pada
Allah dengan selalu taat dan menjauhi larangan-larangan-
Nya. Lihatlah bagaimana do’a Ibrahim ketika di usia senja
ia masih diberi keturunan.
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan
kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya
Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar
(memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39). Ada ulama
yang mengatakan bahwa ketika Isma’il lahir, usia Ibrahim
99 tahun dan ketika Ishaq lahir, usia beliau 112 tahun. [7]
Semoga tulisan ini bermanfaat. Segala puji bagi Allah yang
dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-
qolbu/2951-di-saat-impian-belum-terwujud.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: