Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Istigfar dan Taubat

on September 7, 2012

Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah
istighfar (memohon ampunan) dan taubat kepada Allah
Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan).
Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi
menjadi dua pembahasan:
a. Hakikat istighfar dan taubat.
b. Dalil syar’i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci
rizki.
A. Hakikat Istighfar dan Taubat
Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan
taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian
mereka mengucapkan,
“Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat
kepada-Nya”
Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam
hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota
badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah
perbuatan orang-orang dusta.
Para ulama – semoga Allah memberi balasan yang sebaik-
baiknya kepada mereka telah menjelaskan hakikat istighfar
dan taubat.
Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: “Dalam
istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena ke-
burukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan,
berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan
berusaha mela-kukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika
keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya
telah sempurna”
Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menje-
laskan: “Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa
hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara
hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya
dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama,
hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus
menyesali per-buatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus
berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah
satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.
Jika taubat itu berkaitan dengan manusia maka syaratnya
ada empat. Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya
ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika
ber-bentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus
mengem-balikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan
atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan
untuk mem-balasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika
berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta
maaf.”
Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-
Raghib Al-Ashfahani adalah “Meminta (ampunan) dengan
ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia
Maha Pengampun.” (Nuh: 10).
Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta
ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan
dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon
ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai
perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.
B. Dalil Syar’i Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk
Kunci Rizki
Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits me-
nunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-
sebab rizki dengan karunia Allah . Di bawah ini beberapa
nash dimaksud:
Apa yang disebutkan Allah tentang Nuh
yang berkata kepada kaumnya :
“Maka aku katakan kepada mereka,
‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’,
sesungguhnya Dia adalah Maha
Pengampun, niscaya Dia akan
mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat, dan membanyakkan harta dan
anak-anakmu dan mengadakan untukmu
kebun-kebun dan mengadakan (pula di
dalamnya) untukmu sungai-
sungai’.” (Nuh: 10-12).
Ayat-ayat di atas menerangkan cara
mendapatkan hal-hal berikut dengan
istighfar.
Ampunan Allah terhadap
dosa-dosanya.
Berdasarkan fir-manNya:
“Sesungguhnya Dia
adalah Maha
Pengampun.”
Diturunkannya hujan
yang lebat oleh Allah.
Ibnu Abbas radhiallaahu
anhu berkata “midraara ”
adalah (hujan) yang turun
dengan deras.
Allah akan
membanyakkan harta dan
anak-anak. Dalam
menafsirkan ayat:Atha’
berkata: “Niscaya Allah
akan membanyakkan
harta dan anak-anak
kalian”.
Allah akan menjadikan
untuknya kebun-kebun.
Allah akan menjadikan
untuknya sungai-sungai.
Imam Al-Qurthubi
berkata: “Dalam ayat ini,
juga disebutkan dalam
(surat Hud) adalah dalil
yang menunjukkan bahwa
istighfar merupakan salah
satu sarana meminta
ditu-runkannya rizki dan
hujan.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya
berkata: “Makna-nya, jika kalian bertaubat
kepada Allah, meminta ampun kepadaNya
dan kalian senantiasa mentaatiNya
niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian
dan menurunkan air hujan serta
keberkahan dari langit, mengeluarkan
untuk kalian berkah dari bumi,
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk
kalian, melimpahkan air susu perahan
untuk kalian, mem-banyakkan harta dan
anak-anak untuk kalian, menjadikan
kebun-kebun yang di dalamnya
bermacam-macam buah-buahan untuk
kalian serta mengalirkan sungai-sungai di
antara kebun-kebun itu (untuk kalian).”
Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar
bin Khaththab juga berpegang dengan
apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini
ketika beliau memohon hujan dari Allah .
Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi:
“Bahwasanya Umar keluar untuk
memohon hujan bersama orang ba-nyak.
Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan
istighfar (memohon ampun kepada Allah)
lalu beliau pulang. Maka seseorang
bertanya kepadanya, ‘Aku tidak
mendengar Anda memohon hujan’. Maka
ia menjawab, ‘Aku memohon
diturunkannya hujan dengan majadih
langit yang dengannya diharapkan bakal
turun air hujan. Lalu beliau membaca
ayat:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
sesungguhnya Dia adalah Maha
Pengampun, niscaya Dia akan
mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat.” (Nuh: 10-11).
Imam Al-Hasan Al-Bashri juga
menganjurkan istighfar (memohon
ampun) kepada setiap orang yang
mengadukan kepadanya tentang
kegersangan, kefakiran, sedikitnya ketu-
runan dan kekeringan kebun-kebun.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu
Shabih, bah-wasanya ia berkata: “Ada
seorang laki-laki mengadu kepada Al-
Hasan Al-Bashri tentang kegersangan
(bumi) maka beliau berkata kepadanya,
“Beristighfarlah kepada Allah!” Yang lain
mengadu kepadanya tentang kemiskinan
maka beliau berkata kepadanya,
“Beristighfarlah kepada Allah!” Yang lain
lagi berkata kepadanya, “Do’akanlah (aku)
kepada Allah, agar ia memberiku anak!”
Maka beliau mengatakan kepadanya,
“Beristighfarlah kepada Allah!” Dan yang
lain lagi mengadu kepadanya tentang
kekeringan kebunnya maka beliau
mengatakan (pula) kepadanya,
“Beristighfarlah kepada Allah!”
Dan kami menganjurkan demikian kepada
orang yang mengalami hal yang sama.
Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka Ar-
Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya,
‘Banyak orang yang mengadukan
bermacam-macam (perkara) dan Anda
memerintahkan mereka semua untuk
beristighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri
menjawab, ‘Aku tidak mengata-kan hal itu
dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah
telah berfirman dalam surat Nuh:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
sesungguhnya Dia adalah Maha
Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-
kan hujan kepadamu dengan lebat, dan
membanyakkan harta dan anak-anakmu
dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun
dan mengadakan (pula di dalamnya)
untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12).
Allahu Akbar! Betapa agung, besar dan
banyak buah dari istighfar! Ya Allah,
jadikanlah kami termasuk hamba-ham-
baMu yang pandai beristighfar. Dan
karuniakanlah kepada kami buahnya, di
dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya
Engkau Maha Mendengar dan Maha
Mengabulkan. Amin, wahai Yang Maha
Hidup dan terus menerus mengurus
MakhlukNya.
Ayat lain adalah firman Allah yang
menceritakan tentang seruan Hud kepada
kaumnya agar beristighfar.
“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku,
mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu
bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia
menurunkan hujan yang sangat lebat
atasmu dan Dia akan menambahkan
kekuatan kepada kekuatanmu dan
janganlah kamu berpaling dengan berbuat
dosa’.” (Hud:52).
Al-Hafizh Ibnu katsir dalam menafsirkan
ayat yang mulia di atas menyatakan:
“Kemudian Hud memerintahkan kaumnya
untuk beristighfar yang dengannya dosa-
dosa yang lalu dapat dihapuskan,
kemudian memerintahkan mereka
bertaubat untuk masa yang akan mereka
hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti
ini, niscaya Allah akan memudahkan
rizkinya, melancarkan urusannya dan
menjaga keadaannya. Karena itu Allah
berfirman:
“Niscaya Dia menurunkan hujan yang
sangat lebat atas-mu”.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-
orang yang memiliki sifat taubat dan
istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami,
lancarkanlah urusan-urusan kami serta
jagalah keadaan kami. Sesungguhnya
Engkau Maha Mendengar lagi Maha
Mengabulkan doa. Amin, wahai Dzat Yang
Memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ayat yang lain adalah firman Allah:
“Dan hendaklah kamu meminta ampun
kepada Tuhanmu dan bertaubat
kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang
demikian), niscaya Dia akan memberi
kenikmatan yang baik (terus menerus)
kepadamu sampai kepada waktu yang
telah ditentukan, dan Dia akan memberi
kepada tiap-tiap orang yang mempunyai
keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika
kamu berpaling, maka sesungguhnya aku
takut kamu akan ditimpa siksa hari
Kiamat.” (Hud: 3).
Pada ayat yang mulia di atas, terdapat
janji dari Allah Yang Maha Kuasa dan
Maha Menentukan berupa kenikmatan
yang baik kepada orang yang beristighfar
dan bertaubat. Dan maksud dari
firmanNya:
“Niscaya Dia akan memberi kenikmatan
yang baik (terus-menerus) kepadamu.”
Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin
Abbas adalah, “Ia akan menganugerahi
rizki dan kelapangan kepada kalian”.
Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam
tafsirnya mengatakan: “Inilah buah dari
istighfar dan taubat. Yakni Allah akan
memberi kenikmatan kepada kalian
dengan berbagai manfaat berupa
kelapangan rizki dan kemakmuran hidup
serta Ia tidak akan menyiksa kalian
sebagaimana yang dilakukanNya terhadap
orang-orang yang dibinasakan sebelum
kalian.
Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia itu
diutarakan dalam bentuk pemberian
balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh
Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi
berkata: “Ayat yang mulia tersebut
menunjukkan bahwa beristighfar dan ber-
taubat kepada Allah dari dosa-dosa
adalah sebab sehingga Allah
menganugerahkan kenikmatan yang baik
kepada orang yang melakukannya sampai
pada waktu yang ditentukan. Allah
memberikan balasan (yang baik) atas
istighfar dan taubat itu dengan balasan
berdasarkan syarat yang ditetapkan”.
Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat
adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu
hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad,
Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-
Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata,
Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa memperbanyak istighfar
(mohon ampun kepada Allah), niscaya
Allah menjadikan untuk setiap
kesedihannya jalan keluar dan untuk
setiap kesempitan-nya kelapangan dan
Allah akan memberinya rizki (yang halal)
dari arah yang tiada disangka-sangka”.
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang
jujur dan terpercaya, yang berbicara
berdasarkan wahyu, mengabarkan
tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh
orang yang mem-perbanyak istighfar.
Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang
Maha Memberi rizki, yang Memiliki
kekuatan akan mem-berikan rizki dari arah
yang tidak disangka-sangka dan tidak
diharapkan serta tidak pernah terdetik
dalam hatinya.
Karena itu, kepada orang yang
mengharapkan rizki hen-daklah ia
bersegera untuk memperbanyak istighfar
(memo-hon ampun), baik dengan ucapan
maupun perbuatan. Dan hendaknya
setiap muslim waspada, sekali lagi
hendaknya waspada, dari melakukan
istighfar hanya sebatas dengan lisan
tanpa perbuatan. Sebab itu adalah
pekerjaan para pendusta.
Sumber : http://www.alsofwah.or.id/index.php?
pilih=lihatkajian&parent_id=481&parent_section=kj017&idj
udul=1


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: