Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Jerat-jerat Utang

on September 21, 2012

Oleh: Muhammad Nuh

dakwatuna.com – Dunia bagi seorang mukmin adalah
arena ujian. Adakalanya ia sukses mengarungi hidup.
Sabar atas segala cobaan yang silih berganti menghantam
bagaikan badai. Tapi, tak tertutup kemungkinan bisa gagal
dan jatuh menyakitkan.
Ada banyak cobaan hidup. Di antaranya berkisar masalah
uang. Salah satu masalah yang kerap dijumpai berkenaan
dengan uang adalah utang. Karena, kian hari utang
menjadi sesuatu hal yang hampir tak bisa lagi
terhindarkan.
Hidup di dunia moderen nyaris berhimpit dengan utang.
Bahkan, untuk sebagian orang, utang menjadi gaya hidup.
Orang bisa dikatakan maju jika mampu berutang. Semakin
banyak utang, semakin tinggi status sosialnya. Orang kian
dimanja dengan utang. Sekaligus ditipu dan dijatuhkan
dengan utang. Na’uzdubillah min dzalik!
Seorang mukmin adalah manusia yang tidak tertutup
kemungkinan tergiring dalam pola hidup seperti itu. Bisa
banyak sebab yang menjadikan utang begitu dekat.
Bahkan, menjadi incaran. Mungkin, masalah kemampuan
ekonomi sehingga utang menjadi pilihan terakhir.
Masalahnya, mampukah seorang mukmin mengendalikan
utang dalam kematangan dirinya. Utang beredar dalam
batasan sarana yang hanya sebagai salah satu pilihan.
Bukan sebagai tujuan. Jika utang menjadi tujuan, ia akan
mengendalikan diri seseorang sehingga terpuruk dalam
jurang kehancuran.
Betapa utang punya nilai bahaya yang lebih dahsyat
daripada sebuah senjata yang mematikan. Bisa lebih
ganas dari hewan buas mana pun. Di antara bahaya yang
mengiringi belitan utang pada seseorang adalah:
1. Membuat diri menjadi hina
Harga diri seorang mukmin begitu tinggi. Tak seorang pun
yang mampu merendahkannya. Karena, mukmin punya
keterikatan dengan Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung.
Dan, seorang mukmin yang meninggal dunia demi
mempertahankan kemuliaan itu, ganjarannya adalah
surga.
Namun, kemuliaan itu kadang memudar manakala ada
cacat dalam diri seorang mukmin. Di antara cacat itu
adalah ketidakberdayaan membayar utang. Saat itu juga,
terselip dalam diri seorang mukmin itu perasaan rendah.
Bahkan, hina. Bayang-bayang ketidakmampuan itu
menjadikan dirinya tak lagi berdaya di hadapan orang lain.
Terutama, orang yang memberi utang. Ia tak lagi mampu
menangkis marah, celaan, bahkan gugatan hukum sekali
pun.
2. Mudah berdusta
Dusta adalah sesuatu yang tak mungkin dilakukan seorang
mukmin. Rasulullah saw mengatakan seorang mukmin
mungkin saja bermaksiat. Tapi, ia tak mungkin berdusta.
Lain halnya ketika utang sudah mengepung. Mau bayar tak
ada uang. Mau menghindar terlanjur janji. Akhirnya, ada
satu pilihan aman. Dan pilihan itu adalah berdusta.
“Besok, ya!” Atau, “Oh iya. Saya lupa!” Itulah ungkapan-
ungkapan yang kerap keluar tanpa lagi terkendali. Suatu
saat, ucapan bohong itu menjadi biasa. Dan, orang-orang
pun memberikan cap pada kita bukan hanya sebagai
pengutang. Melainkan, juga sebagai pembohong.
Nau’dzubillah!
Pernah para sahabat bertanya kenapa Rasulullah begitu
banyak berdoa agar terhindar dari utang. Beliau saw
bersabda, “Sesungguhnya jika seseorang terlilit utang ia
akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu
mengingkari.” (Mutafaq ‘alaih)
3. Memutuskan hubungan silaturahim
Seorang mukmin dengan mukmin lainnya memang seperti
satu tubuh. Satu anggota tubuh sakit, yang lain pun ikut
sakit. Tapi, ada satu hal yang membuat tubuh itu menjadi
cerai berai. Tak ada satu hal yang paling rawan mampu
menceraiberaikan keutuhan tubuh itu kecuali masalah
uang. Dan di antara masalah uang itu adalah utang.
Tiba-tiba, seorang saudara menjadi asing dengan saudara
lainnya disebabkan karena utang. Muncullah sesuatu yang
sebelumnya tak mungkin ada. Ada rasa benci, marah,
bahkan permusuhan. Terbanglah perasaan simpati, cinta,
dan rindu layaknya seorang mukmin dengan saudara
seakidahnya. Persaudaraan yang begitu sulit dan lama
terbina, bisa terhapus hanya dengan satu masalah: utang.
4. Terjebak tindak kriminal
Pada tingkat tertentu, utang mampu menjerumuskan
seorang mukmin pada tindakan yang sama sekali di luar
perkiraannya. Sama sekali tak pernah tersirat kalau ia akan
tega melakukan tindakan yang lebih buruk. Mungkin, di
sinilah setan menuai sukses atas langkah-langkahnya.
Orang yang sudah dikendalikan utang tidak lagi merasa
ragu melakukan tindak kriminal. Di antaranya, penipuan
dan pencurian. Bayang-bayang hitam tentang utangnya
menjadikan pandangan nuraninya menjadi keruh. Bahkan,
gelap sama sekali. Tak ada satu tindakan yang lebih
mendominasi dirinya kecuali bayar utang, dengan cara apa
pun. Atau, tindakan yang tidak kalah parah: lari dari utang
dengan cara apa pun.
Pada tingkatan ini, seorang mukmin mengalami
kemerosotan kualitas diri yang luar biasa. Kejujurannya
hilang, kemuliaannya sebagai mukmin menguap entah
kemana, cahaya imannya pun kian redup. Dan, kenikmatan
hidup tak lagi terasa. Bumi Allah yang begitu luas terasa
sempit dan menyesakkan.
5. Meninggalkan beban kepada ahli waris
Alangkah berat duka anggota keluarga yang ditinggal pergi
ayah atau ibu selamanya. Mereka begitu kehilangan
seorang yang amat dicintai. Bahkan, seseorang yang
menjadi andalan ekonomi keluarga.
Penderitaan pun kian berat manakala mereka tahu kalau
almarhum mewariskan utang. Bagi mereka, tidak ada
tawar menawar, kecuali membayar utang. Masalahnya,
mampukah mereka membayar? Atau, utang menjadi
warisan turunan.
6. Tertunda masuk surga
Ternyata, bahaya utang tidak melulu dalam wilayah dunia.
Di akhirat pun, para pengutang akan mendapat cela yang
tidak mengenakkan. Rasulullah saw pernah menasihati
para sahaba soal ini. Beliau bersabda, “Demi Tuhan yang
jiwaku berada di tanganNya, seandainya seseorang
terbunuh di jalan Allah, kemudian hidup lagi dan terbunuh
lagi, kemudian hidup lagi dan terbunuh lagi sedangkan ada
tanggungan utang padanya maka ia tidak akan masuk
surga sampai melunasi utangnya.” (Nasai, Ath-Thabrani,
Al-Hakim)
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/jerat-jerat-
utang/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: