Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Ma’rifatullah (Bagian 1)

on September 22, 2012

Oleh: Tim dakwatuna.com
dakwatuna.com – Mungkin ada di kalangan kaum
muslimin yang bertanya kenapa pada saat ini kita masih
perlu berbicara tentang Allah padahal kita sudah sering
mendengar dan menyebut namaNya, dan kita tahu bahwa
Allah itu Tuhan kita. Tidakkah itu sudah cukup untuk kita?
Tidak. Jangan sekali-kali kita merasa cukup dengan
pemahaman dan pengenalan kita terhadap Allah. Karena,
semakin memahami dan mengenaliNya kita merasa
semakin dekat denganNya. Selain itu, dengan pengenalan
yang lebih dalam lagi, kita bisa terhindar dari pemahaman-
pemahaman yang keliru tentang Allah dan kita terhindar
dari sikap-sikap yang salah terhadap Allah.
Ketika kita membicarakan makrifatullah, maknanya kita
berbicara tentang Rabb, Malik, dan Ilah kita. Rabb yang
kita pahami dari istilah Al-Qur’an adalah sebagai Pencipta,
Pemilik, Pemelihara dan Penguasa. Kata Ilah mengandung
arti yang dicintai, yang ditakuti, dan juga sebagai sumber
pengharapan. Makna seperti ini ada di dalam surat An-
Naas (114): 1-3.
Dengan demikian jelaslah bahwa usaha kita untuk lebih
jauh memahami dan mengenal Allah adalah bagian
terpenting di dalam hidup ini. Lantas, bagaimana metoda
yang harus kita tempuh untuk bisa mengenal Allah? Apa
saja halangan yang senantiasa menghantui manusia dari
mengenalNya? Benarkan kalimat yang mengatakan,
“Kenalilah dirimu niscaya engkau akan mengenali
Tuhanmu.” Dari pengenalan diri sendiri, maka ia akan
membawa kepada pengenalan (makrifah) yang
menciptakan diri, yaitu Allah. Ini adalah karena pada
hakikatnya makrifah kepada Allah adalah sebenar-benar
makrifah dan merupakan asas segala kehidupan rohani.
Setelah makrifah kepada Allah, akan membawa kita
kepada makrifah kepada Nabi dan Rasul, makrifah kepada
alam nyata dan alam ghaib dan makrifah kepada alam
akhirat.
Keyakinan terhadap Allah swt. menjadi mantap apabila
kita mempunyai dalil-dalil dan bukti yang jelas tentang
kewujudan (eksistensi) Allah lantas melahirkan pengesaan
dalam mentauhidkan Allah secara mutlak. Pengabdian diri
kita hanya semata-mata kepada Allah saja. Ini memberi
arti kita menolak dan berusaha menghindarkan diri dari
bahaya-bahaya disebabkan oleh syirik kepadaNya.
Kita harus berusaha menempatkan kehidupan kita di
bawah bayangan tauhid dengan cara kita memahami
ruang perbahasan dalam tauhid dengan benar tanpa
penyelewengan sesuai dengan manhaj salafush shalih.
Kita juga harus memahami empat bentuk tauhidullah yang
menjadi misi ajaran Islam di dalam Al-Qur’an maupun
sunnah, yaitu tauhid asma wa sifat, tauhid rububiah,
tauhid mulkiyah, dan tauhid uluhiyah. Dengan
pemahaman ini kita akan termotivasi untuk melaksanakan
sikap-sikap yang menjadi tuntutan utama dari setiap
empat tauhid tersebut.
Kehidupan paling tenang adalah kehidupan yang
bersandar terus kecintaannya kepada Yang Maha
Pengasih. Oleh karena itu kita harus mampu
membedakan di antara cinta kepada Allah dengan cinta
kepada selainNya serta menjadikan cinta kepada Allah
mengatasi segala-galanya. Apa yang menjadi tuntutan
kepada kita ialah kita menyadari pentingnya melandasi
seluruh aktivitas hidup dengan kecintaan kepada Allah,
Rasul, dan jihad secara minhaji.
Di dalam memahami dan mengenal Allah ini, kita
seharusnya memahami bahwa Allah sebagai sumber ilmu
dan pengetahuan. Ilmu-ilmu yang Allah berikan itu
menerusi dua jalan yang membentuk dua fungsi yaitu
sebagai pedoman hidup dan juga sebagai sarana hidup.
Kita juga sepatutnya menyadari kepentingan kedua bentuk
ilmu Allah dalam pengabdian kepada Allah untuk mencapai
tahap takwa yang lebih cemerlang.
Ayat-ayat Allah ada dalam bentuk ayat-ayat qauliyah dan
kauniyah. Kedua jenis ayat-ayat Allah ini terbuka bagi siapa
saja yang ingin membaca dan menelitinya. Namun
terdapat berbagai halangan akan muncul di hadapan kita
dalam mengenali Allah. Halangan-halangan ini muncul
dalam bentuk sifat-sifat pribadi kita yang bersumberdari
syahwat –seperti nifaq, takabbur, zhalim, dan dusta– dan
sifat-sifat yang bersumber dari syubhat –seperti jahil,
ragu-ragu, dan menyimpang. Kesemua sifat-sifat fujur itu
akan menghasilkan kekufuran terhadap Allah swt.
Ahammiyah Ma’rifatullah (Urgensi mempelajari
Makrifatullah)
Riwayat ada menyatakan bahwa perkara pertama yang
mesti dilaksanakan dalam agama adalah mengenal Allah
(awwaluddin ma’rifatullah). Bermula dengan mengenal
Allah, maka kita akan mengenali diri kita sendiri. Siapakah
kita, di manakah kedudukan kita berbanding makhluk-
makhluk yang lain? Apakah sama misi hidup kita dengan
binatang-binatang yang ada di bumi ini? Apakah tanggung
jawab kita dan ke manakah kesudahan hidup kita? Semua
persoalan itu akan terjawab secara tepat setelah kita
mengenali betul Allah sebagai Rabb dan Ilah, Yang
Mencipta, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.
Dalil-dalil:
QS. Muhammad (47): 19
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah
(sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan
bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-
laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu
berusaha dan tempat kamu tinggal.
Ayat ini mengarahkan kepada kita dengan kalimat
“ketahuilah olehmu” bahwasanya tidak ada ilah selain
Allah dan minta ampunlah untuk dosamu dan untuk
mukminin dan mukminat. Apabila Al-Qur’an menggunakan
sibghah amar (perintah), maka menjadi wajib menyambut
perintah tersebut. Dalam konteks ini, mengetahui atau
mengenali Allah (ma’rifatullah) adalah wajib.
QS. Ali Imran (3): 18
Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia
(yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para
malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang
berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia,
dan telah mengakui pula para malaikat dan orang-orang
yang berilmu sedang Allah berdiri dengan keadilan. Tidak
ada tuhan melainkan Dia Yang Maha Perkasa dan Maha
Bijaksana.
QS. Al-Hajj (22): 72-73
Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami
yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran
pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir
mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-
ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah, “Apakah akan
aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu,
yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada
orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-
buruknya tempat kembali.
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka
dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya
segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat
menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu
menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari
mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari
lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah
(pulalah) yang disembah.
QS. Az-Zumar (39): 67
Mereka tidak mentaqdirkan Allah dengan ukuran yang
sebenarnya sedangkan keseluruhan bumi berada di dalam
genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit-langit
dilipatkan dengan kananNya. Maha Suci Dia dan Maha
Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.
Tema Perbicaraan Makrifatullah – Allah Rabbul Alamin.
Ketika membicarakan ma’rifatullah, artinya kita sedang
membicarakan tentang Rabb, Malik, dan Ilah kita. Rabb
yang kita pahami dari istilah Al-Qur’an adalah sebagai
Pencipta, Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa. Sedangkan
kata Ilah mengandungi arti yang dicintai, yang ditakuti, dan
juga sebagai sumber pengharapan. Hal ini termaktub
dalam surat An-Naas (114): 1-3. Inilah tema yang dibahas
dalam ma’rifatullah. Jika kita menguasai dan menghayati
keseluruhan tema ini, bermakna kita telah mampu
menghayati makna ketuhanan yang sebenarnya.
Dalil-dalil:
QS. Ar-Ra’du (13): 16
Katakanlah, “Siapakah Rabb segala langit dan bumi?”
Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Adakah kamu mengambil
wali selain dariNya yang tiada manfaat kepada dirinya dan
tidak pula dapat memberikan mudarat?” Katakanlah,
“Apakah sama orang buta dengan orang yang melihat?
Apakah sama gelap dan nur (cahaya)?” Bahkan adakah
mereka mengadakan bagi Allah sekutu-sekutu yang
menjadikan sebagaimana Allah menjadikan, lalu serupa
makhluk atas mereka? Katakanlah, “Allah. Allah yang
menciptakan tiap tiap sesuatu dan Dia Esa lagi Maha
Kuasa.”
QS. Al-An’am (6): 12
Katakanlah, “Bagi siapakah apa-apa yang di langit dan
bumi?” Katakanlah, “Bagi Allah.” Dia telah menetapkan ke
atas diriNya akan memberikan rahmat. Sesungguhnya Dia
akan menghimpun kamu pada Hari Kiamat, yang tidak ada
keraguan padanya. Orang-orang yang merugikan diri
mereka, maka mereka tidak beriman.”
QS. Al-An’am (6): 19
Katakanlah, “Apakah saksi yang paling besar?” Katakanlah,
“Allah lah saksi di antara aku dan kamu. Diwahyukan
kepadaku Al-Qur’an ini untuk aku memberikan amaran
kepada engkau dan sesiapa yang sampai kepadanya Al-
Qur’an. Adakah engkau menyaksikan bahawa bersama
Allah ada tuhan-tuhan yang lain?” Katakanlah, “Aku tidak
menyaksikan demikian.” Katakanlah, “Hanya Dia-lah Tuhan
yang satu dan aku bersih dari apa yang kamu sekutukan.”
QS. An-Naml (27): 59
Katakanlah, “Segala puji-pujian itu adalah hanya untuk
Allah dan salam sejahtera ke atas hamba-hambanya yang
dipilih. Adakah Allah yang paling baik ataukah apa yang
mereka sekutukan?”
QS. An-Nur (24): 35
“Allah memberi cahaya kepada seluruh langit dan bumi.”
QS. Al-Baqarah (2): 255
“Allah. Tidak ada tuhan melainkan Dia. Dia hidup dan
berdiri menguasai seluruh isi bumi dan langit.”
Didukung Dengan Dalil Yang Kuat
QS. Al-Qiyamah (75): 14-15
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.
Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
Makrifatullah yang sahih dan tepat itu mestilah
bersandarkan dalil-dalil dan bukti-bukti kuat yang telah
siap disediakan oleh Allah untuk manusia dalam berbagai
bentuk agar manusia berpikir dan membuat penilaian.
Oleh karena itu banyak fenomena alam yang dibahas oleh
Al-Qur‘an dan diakhiri dengan kalimat pertanyaan:
tidakkah kamu berpikir, tidakkah kamu mendengar.
Pertanyaan-pertanyaan itu mendudukkan kita pada satu
pandangan yang konkrit betapa semua fenomena alam
adalah di bawah milik dan aturan Allah swt.
Dalil-dalil:
Naqli [QS. Al-An’am (6): 19]
Katakanlah, “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?”
Katakanlah, “Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan
kamu. Dan Al-Qu’ran ini diwahyukan kepadaku supaya
dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan
kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya).
Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-
tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah, “Aku tidak
mengakui.” Katakanlah, “Sesungguhnya dia adalah Tuhan
yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari
apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).”
Aqli, [QS. Ali Imran (3): 190]
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal.
Fitri, [QS. Al-A’raf (7): 172]
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan).”
Dapat Menghasilkan: peningkatan iman dan taqwa.
Apabila kita betul-betul mengenal Allah mentadaburi dalil-
dalil yang dalam, hubungan kita dengan Allah menjadi
lebih akrab. Apabila kita dekat dengan Allah, Allah lebih
dekat lagi kepada kita. Setiap ayat Allah baik ayat qauliyah
maupun kauniyah tetap akan menjadi bahan berpikir
kepada kita dan penambah keimanan serta ketakwaan.
Dari sini akan menghasilkan pribadi muslim yang merdeka,
tenang, penuh keberkatan, dan kehidupan yang baik.
Tentunya tempat abadi baginya adalah surga yang telah
dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba yang telah
diridhaiNya.
Kemerdekaan [QS. Al-An’am (6): 82]
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan
iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang
mendapat keamanan; dan mereka itu adalah orang-orang
yang mendapat petunjuk.
Ketenangan [QS. Al-Ra’du (13): 28]
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Barakah [QS. Al-A’raf (7): 96]
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan
bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka
berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.
Kehidupan Yang Baik [QS. Al-Nahl (16): 97]
Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki
maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan.
Surga [QS. Yunus (10): 25-26]
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan
menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang
lurus (Islam). Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada
pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka
mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula)
kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di
dalamnya.
Mardhotillah [QS. Al-Bayinah (98): 8]
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka
dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu
adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/marifatullah-
bagian-1/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: