Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Fadhilah Sholat Dhuha

on January 31, 2013

Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah
dengan waktu dhuha dan waktu malam: “Demi waktu
matahari sepenggalahan naik, dan demi malam
apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2). Pernahkah
terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai
bersumpah pada kedua waktu itu? Beberapa ahli
tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah
waktu yang utama paling dalam setiap harinya.
Pada waktu itulah Allah swt sangat memperhatikan
hambaNya yang paling getol mendekatkan diri
kepadaNya. Ditengah malam yang sunyi, dimana
orang-orang sedang tidur nyenyak tetapi hamba Allah
yang pintar mengambil kesempatan disa’at itu
dengan bermujahadah melawan kantuk dan
dinginnya malam dan air wudhu’, bangun untuk
menghadap Khaliqnya, tidak lain hanya untuk
mendekatkan diri kepadanya.
Demikian juga dengan waktu dhuha, dimana orang-
orang sibuk dengan kehidupan duniawinya dan
mereka yang tahu pasti akan meninggalkannya
sebentar untuk kembali mengingat Allah swt,
sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Zaid bin
Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang
sedang melaksanakan shalat dhuha: “Ingatlah,
sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa
shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya
Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul
awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah,
setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja,
yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena
mulai panas tempat terbaringnya.” (HR Muslim).
Lantas bagaimana tidak senang Allah dengan seorang
hamba yang seperti ini, sebagaimana janjiNya: “Hai
orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah
dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya,
dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu
mendapat keberuntungan. (QS. 5:35). Diakhir ayat ini
terlihat Allah menyatakan kata “beruntung” bagi
hambanya yang suka mendekatkan diri kepadanya.
Nach.. kalau bicara tentang beruntung tentu ini
adalah rejeki bagi kita. Dan satu hal yang perlu kita
ingat bahwa rejeki itu bukan hanya bentuknya materi
atau uang belaka. Tetapi lebih dalam dari itu, segala
sesuatu yang diberikan kepada kita yang berdampak
kebaikan kepada kehidupan kita didunia dan
diakhirat adalah rejeki. Dan puncak dari segala rejeki
itu adalah kedekatan kepada Allah swt dan tentu
kalau berbicara ganjaran yaitu kenikmatan puncak
yang paling akhir adalah syurga. Oleh karena itu para
ulama mengajarkan kita untuk berdo’a tentang rejeki
ketika selesai shalat dhuha. Jadi salah satu fadilah
(keutamaan) dari shalat dhuha itu adalah sarana
jalan untuk memohon limpahan rejeki dari Allah swt.
Disamping itu shalat dhuha ini juga dapat
mengantikan ketergadaian setiap anggota tubuh kita
pada Allah, dimana kita wajib membayarnya
sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap pagi
setiap persendian salah seorang diantara kalian
harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih
adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah,
setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah
sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah
kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at
dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR
Muslim).
Tetapi yang lebih dalam dari itu lagi adalah shalat
dhuha ini adalah salah amalan yang disukai
Rasulullah saw beserta para sahabatnya (sunnah),
sebagaimana anjuran beliau yang disampaikan oleh
Abu Hurairah ra:
“Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku
dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at
dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu
Dawud).
Kalaulah tidak khawatir jika ummatnya menganggap
shalat dhuha ini wajib hukumnya maka Rasulullah
saw akan tidak akan pernah meninggalkannya. Para
orang alim, awliya dan ulama sangatlah menjaga
shalat dhuhanya sebagaimana yang dikatakan oleh
Imam Syafei’: Tidak ada alasan bagi seorang mukmin
untuk
tidak melakukan shalat dhuha”. Hal ini sudah jelas
dikarenakan oleh seorang mukmin sangat apik dan
getol untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya”.
Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai seorang
muslim yang mempunyai tujuan hidup untuk
mendapatkan ridhoNya meninggalkan shalat dhuha
karena kesibukan duniawi kita kecuali karena
kelalaian dan kebodohan kita sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: