Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Mandi haid dan junub

on February 17, 2013

♦ Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub ♦
Diringkas dari majalah As Sunah Edisi 04/
Th.IV/1420-2000, oleh Ummu ‘Athiyah
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Haid adalah salah satu najis yang menghalangi wanita
untuk melaksanakan ibadah sholat dan puasa
(pembahasan mengenai hukum-hukum seputar haidh
telah disebutkan dalam beberapa edisi yang lalu), maka
setelah selesai haidh kita harus bersuci dengan cara
yang lebih dikenal dengan sebutan mandi haid.
Agar ibadah kita diterima Allah maka dalam
melaksanakan salah satu ajaran islam ini, kita harus
melaksanakannya sesuai tuntunan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan Rasulullah telah
menyebutkan tata cara mandi haid dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu
‘Anha bahwa Asma’ binti Syakal Radhiyallahu ‘Anha
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam tentang mandi haidh, maka beliau bersabda:
ﺍَﺪْﺣِﺇُﺬُﺧْﺄَﺗ َّﻦُﻛ ﺎَﻬَﺋﺎَﻣ ﺎَﻫَﺭْﺪِﺳَﻭ ُﺮَّﻬَﻄََﺘَﻓ ُﻦِﺴْﺤُﺘَﻓ َﺭﻮُﻬُّﻄﻟﺍ ْﻭﺃ ُﻎِﻠْﺒَﺗ
ﻲِﻓ ِﺭﻮُﻬُّﻄﻟﺍ َّﻢُﺛ ُّﺐُﺼَﺗ ﻰَﻠَﻋ ﺎَﻬِﺳْﺃَﺭ ُﻪُُﻜُﻟْﺪَﺘَﻓ ﺎًﻜْﻟَﺩ ِﺪَﺷ ﺍًﺪْﻳ ﻰََّﺘَﺣ
َﻥﻭُﺆُﺷ َﻎِﻠْﺒَﺗ ﺎَﻬِﺳْﺃَﺭ َّﻢُﺛ ُّﺐُﺼَﺗ ﺎَﻬْﻴَﻠَﻋ َﺀﺎَﻤﻟﺍ َّﻢُﺛ ُﺬُﺧْﺄَﺗ ًﺔَﺻْﺮِﻓ ًﺔَﻜَّﺴَﻤُﻣ
ُﺮُﻬْﻄَﺘَﻓ ﺎَﻬِﺑ ْﺖَﻟﺎَﻗ ُﺀﺎَﻤْﺳﺃ َﻒْﻴَﻛ ﺍَﻪِﺑُﺮَّﻬَﻄََﺗﺃ َﻝﺎَﻗ َﻥﺎَﺤْﺒُﺳ
ﻱِﺮُّﻬَﻄَﺗِ ﻪﻠﻟﺍ ﺎَﻬِﺑ ْْﺖَﻟﺎَﻗ ُﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ﺎَﻬَّﻧﺄَﻛ ﻲِﻔْﺨُﺗ َﻚِﻟَﺫ ﻲِﻌَّﺒَﺘَﺗ ﺎَﻬِﺑ
ِﻡَّﺪﻟﺍَﺮَﺛﺃ
“Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air
dan sidrahnya (daun pohon bidara, atau boleh juga
digunakan pengganti sidr seperti: sabun dan
semacamnya-pent) kemudian dia bersuci dan
membaguskan bersucinya, kemudian dia menuangkan
air di atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya
dengan kuat sehingga air sampai pada kulit kepalanya,
kemudian dia menyiramkan air ke seluruh badannya,
lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang diberi
minyak wangi kasturi, kemudian dia bersuci dengannya.
Maka Asma’ berkata: “Bagaimana aku bersuci
dengannya?” Beliau bersabda: “Maha Suci Allah” maka
‘Aisyah berkata kepada Asma’: “Engkau mengikuti
(mengusap) bekas darah (dengan kain/kapas itu).”
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa seorang wanita
bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
tentang mandi dari haid. Maka beliau
memerintahkannya tata cara bersuci, beliau bersabda:
ُﺬُﺧْﺄَﺗ ًﺔَﺻْﺮِﻓ ْﻦِﻣ ٍﻚْﺴِﻣ ُﺮُّﻬَﻄَﺘَﻓ ﺎَﻬِﺑ ْﺖَﻟﺎَﻗ َﻒْﻴَﻛ ُﺮُّﻬَﻄَﺗَﺃ َﻝﺎَﻗﺎَﻬِﺑ
ﻱِﺮَّﻬَﻄَﺗ ْﺖَﻟﺎَﻗ.ِﻪﻠﻟﺍ َﻥﺎَﺤْﺒُﺳﺎَﻬِﺑ ُﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ﺍَﻪُﺘْﺑَﺬَﺘْﺟﺍَﻭ ُﺖْﻠُﻘَﻓ َّﻲَﻟِﺇ
ﻲِﻌْﺒَﺘَﺗ ِﻡَّﺪﻟ ﺍَﺮَﺛَﺃﺎَﻬِﺑ
“Hendaklah dia mengambil sepotong kapas atau kain
yang diberi minyak wangi kemudian bersucilah
dengannya. Wanita itu berkata: “Bagaimana caranya
aku bersuci dengannya?” Beliau bersabda: “Maha Suci
Allah bersucilah!” Maka ‘Aisyah menarik wanita itu
kemudian berkata: “Ikutilah (usaplah) olehmu bekas
darah itu dengannya(potongan kain/kapas).” (HR.
Muslim: 332)
An-Nawawi rahimahullah berkata (1/628): “Jumhur
ulama berkata (bekas darah) adalah farji (kemaluan).”
Beliau berkata (1/627): “Diantara sunah bagi wanita
yang mandi dari haid adalah mengambil minyak wangi
kemudian menuangkan pada kapas, kain atau
semacamnya, lalu memasukkannya ke dalam farjinya
setelah selesai mandi, hal ini disukai juga bagi wanita-
wanita yang nifas karena nifas adalah haid.” (Dinukil
dari Jami’ Ahkaam an-Nisaa’: 117 juz: 1).
Syaikh Mushthafa Al-’Adawy berkata: “Wajib bagi wanita
untuk memastikan sampainya air ke pangkal rambutnya
pada waktu mandinya dari haidh baik dengan
menguraikan jalinan rambut atau tidak.Apabila air tidak
dapat sampai pada pangkal rambut kecuali dengan
menguraikan jalinan rambut maka dia (wanita tersebut)
menguraikannya-bukan karena menguraikan jalinan
rambut adalah wajib-tetapi agar air dapat sampai ke
pangkal rambutnya, Wallahu A’lam.” (Dinukil dari Jami’
Ahkaam An-Nisaa’ hal: 121-122 juz: 1 cet: Daar As-
Sunah).
Maka wajib bagi wanita apabila telah bersih dari haidh
untuk mandi dengan membersihkan seluruh anggota
badan; minimal dengan menyiramkan air ke seluruh
badannya sampai ke pangkal rambutnya; dan yang
lebih utama adalah dengan tata cara mandi yang
terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, ringkasnya sebagai berikut:
Wanita tersebut mengambil air dan sabunnya,
kemudian berwudhu’ dan membaguskan wudhu’nya.
Menyiramkan air ke atas kepalanya lalu menggosok-
gosokkannya dengan kuat sehingga air dapat sampai
pada tempat tumbuhnya rambut. Dalam hal ini tidak
wajib baginya untuk menguraikan jalinan rambut
kecuali apabila dengan menguraikan jalinan akan dapat
membantu sampainya air ke tempat tumbuhnya rambut
(kulit kepala).
Menyiramkan air ke badannya.
Mengambil secarik kain atau kapas(atau semisalnya)
lalu diberi minyak wangi kasturi atau semisalnya
kemudian mengusap bekas darah (farji) dengannya.
TATA CARA MANDI JUNUB BAGI WANITA
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata:
ْﺖَﺑﺎَﺻَﺃَﺫِﺇﺎَّﻨُﻛ ْﺕَﺬَﺧَﺃٌﺔَﺑﺎَﻨَﺟﺎَﻧﺍَﺪْﺣِﺇ َﻕْﻮَﻓﺎًﺛﺍَﻞَﺛﺎَﻬْﻳَﺪَﻴِﺑ َََّﻢُﺛ ﺎَﻬَﺳْﺃَﺭ ُﺬُﺧْﺄَﺗ
ﺎَﻫِﺪَﻴِﺑ ﻰَﻠَﻋ ِﻦَﻣَْﻱﺄْﻟﺍﺎَﻬِّﻘِﺷ ﻯَﺮْﺧُﻷْﺍﺎَﻫِﺪَﻴِﺑَﻭ ﻰَﻠََََﻋ ِﺮَﺴْﻳ ﻷْﺍﺎَﻬِّﻘِﺷ
“Kami ( istri-istri Nabi) apabila salah seorang diantara
kami junub, maka dia mengambil (air) dengan kedua
telapak tangannya tiga kali lalu menyiramkannya di
atas kepalanya, kemudian dia mengambil air dengan
satu tangannya lalu menyiramkannya ke bagian tubuh
kanan dan dengan tangannya yang lain ke bagian
tubuh yang kiri.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari: 277
dan Abu Dawud: 253)
Seorang wanita tidak wajib menguraikan (melepaskan)
jalinan rambutnya ketika mandi karena junub,
berdasarkan hadits berikut:
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata:
ُﺕْﺎُﻗ َﻝﻮُﺳَﺭَﺎﻳ ِﻪﻠﻟﺍ ﻲِّﻧِﺇ ٌﺓَﺃَﺮْﻣﺍ ُّﺪُﺷَﺃ ﻲِﺳْﺃَﺭَﺮْﻔَﺿ ُﻪُﻀُﻘْﻧَﺄَﻓَﺃ ِﻞْﺴُﻐِﻟ
؟ِﺔَﺑﺎَﻨَﺠْﻟﺍ ِﻚْﻴِﻔْﻜَﻳﺍَﻢَّﻧِﺇَﻻ:َﻝﺎَﻗ ْﻥَﺃ َﻦْﻴِﺜْﺤَﺗ ِﻚِﺳْﺃَﺭ ﻰَﻠَﻋ َﺙَﻼَﺛ ٍﺕﺎَﻴَﺜَﺣ ْﻦِﻣ
ََّﻢُﺛٍﺀﺎَﻣ َﻦْﻴِﻀْﻴِﻔُﺗ ﻰَﻠَﻋ ِﺮِﺋﺎَﺳ ِﻙِﺩﺎَﺴَﺟ ﻦْﻳِﺮُﻬْﻄَﺘَﻓ َﺀَﺎﻤﻟﺍ
Aku (Ummu Salamah) berkata: “Wahai Rasulullah, aku
adalah seorang wanita, aku menguatkan jalinan
rambutku, maka apakah aku harus menguraikannya
untuk mandi karena junub?” Beliau bersabda: “Tidak,
cukup bagimu menuangkan air ke atas kepalamu tiga
kali kemudian engkau mengguyurkan air ke badanmu,
kemudian engkau bersuci.” (Hadits Shahih riwayat
Muslim, Abu Dawud: 251, an-Nasaai: 1/131,
Tirmidzi:1/176, hadits: 105 dan dia berkata: “Hadits
Hasan shahih,” Ibnu Majah: 603)
Ringkasan tentang mandi junub bagi wanita adalah:
Seorang wanita mengambil airnya, kemudian berwudhu
dan membaguskan wudhu’nya (dimulai dengan bagian
yang kanan).
Menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali.
Menggosok-gosok kepalanya sehingga air sampai pada
pangkal rambutnya.
Mengguyurkan air ke badan dimulai dengan bagian
yang kanan kemudian bagian yang kiri.
Tidak wajib membuka jalinan rambut ketika mandi.
Tata cara mandi yang disebutkan itu tidaklah wajib,
akan tetapi disukai karena diambil dari sejumlah hadits-
hadits Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apabila
dia mengurangi tata cara mandi sebagaimana yang
disebutkan, dengan syarat air mengenai (menyirami)
seluruh badannya, maka hal itu telah mencukupinya.
Wallahu A’lam bish-shawab.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: