Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Sunnahnya Mengakhirkan Shalat Isya

on August 3, 2013

Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
َﻢَﺘْﻋَﺃ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﺕﺍَﺫ ٍﺔَﻠْﻴَﻟ ﻰَّﺘَﺣ َﺐَﻫَﺫ
ُﺔَّﻣﺎَﻋ ِﻞْﻴَّﻠﻟﺍ ﻰَّﺘَﺣَﻭ َﻡﺎَﻧ ُﻞْﻫَﺃ ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟﺍ َّﻢُﺛ َﺝَﺮَﺧ ﻰَّﻠَﺼَﻓ
َﻝﺎَﻘَﻓ ُﻪَّﻧِﺇ ﺎَﻬُﺘْﻗَﻮَﻟ ﺎَﻟْﻮَﻟ ْﻥَﺃ َّﻖُﺷَﺃ ﻰَﻠَﻋ ﻲِﺘَّﻣُﺃ
“Suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
mendirikan shalat ‘atamah (isya`) sampai
berlalu sebagian besar malam dan penghuni
masjid pun ketiduran, setelah itu beliau datang
dan shalat. Beliau bersabda: “Sungguh ini adalah
waktu shalat isya’ yang tepat, sekiranya aku
tidak memberatkan umatku.” (HR. Muslim no.
638)
Dari Jabir bin Samurah -radhiallahu anhu- dia
berkata:
َﻥﺎَﻛ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ُﺮِّﺧَﺆُﻳ َﺓﺎَﻠَﺻ ِﺀﺎَﺸِﻌْﻟﺍ
ِﺓَﺮِﺧﺂْﻟﺍ
“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa
mengakhirkan shalat isya.” (HR. Muslim no. 643)
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
َﻢَﺘْﻋَﺃ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﺀﺎَﺸِﻌْﻟﺎِﺑ ﻰَّﺘَﺣ
ُﻩﺍَﺩﺎَﻧ :ُﺮَﻤُﻋ ،ُﺓَﻼَّﺼﻟﺍ َﻡﺎَﻧ ُﺀﺎَﺴِّﻨﻟﺍ .ُﻥﺎَﻴْﺒِّﺼﻟﺍَﻭ َﺝَﺮَﺨَﻓ :َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻣ
ﺎَﻫُﺮِﻈَﺘْﻨَﻳ ٌﺪَﺣَﺃ ْﻦِﻣ ِﻞْﻫَﺃ ِﺽْﺭَﺄْﻟﺍ .ْﻢُﻛُﺮْﻴَﻏ :َﻝﺎَﻗ َﻻَﻭ ﻰَّﻠَﺼُﻳ
ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ َّﻻِﺇ ،ِﺔَﻨْﻳِﺪَﻤْﻟﺎِﺑ ﺍْﻮُﻧَﺎﻛَﻭ َﻥْﻮُّﻠَﺼُﻳ ﺎَﻤْﻴِﻓ َﻦْﻴَﺑ ْﻥَﺃ َﺐْﻴِﻐَﻳ
ُﻖَﻔَّﺸﻟﺍ ﻰَﻟِﺇ ِﺚُﻠُﺛ ِﻞْﻴَّﻠﻟﺍ ِﻝَّﻭَﺄْﻟﺍ
“Rasulullah mengakhirkan shalat isya hingga
malam sangat gelap sampai akhirnya Umar
menyeru beliau, “Shalat. Para wanita dan anak-
anak telah tertidur.” Beliau akhirnya keluar
seraya bersabda, “Tidak ada seorang pun dari
penduduk bumi yang menanti shalat ini kecuali
kalian.” Rawi berkata, “Tidak dikerjakan shalat
isya dengan cara berjamaah pada waktu itu
kecuali di Madinah. Nabi beserta para
sahabatnya menunaikan shalat isya tersebut
pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai
sepertiga malam yang awal.” (HR. Al-Bukhari no.
569 dan Muslim no. 1441)
Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu dia
berkata:
ﺎَﻨْﻴَﻘْﺑَﺃ َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﻲِﻓ ِﺓَﻼَﺻ ،ِﺔَﻤَﺘَﻌْﻟﺍ
َﺮَّﺧَﺄَﻓ ﻰَّﺘَﺣ َّﻦَﻇ ُّﻥﺎَّﻈﻟﺍ ُﻪَّﻧَﺃ َﺲْﻴَﻟ ،ٍﺝِﺭﺎَﺨِﺑ ُﻞِﺋﺎَﻘْﻟﺍَﻭ ﺎَّﻨِﻣ :ُﻝْﻮُﻘَﻳ
.ﻰَّﻠَﺻ ﺎَّﻧِﺈَﻓ َﻚِﻟَﺬَﻜَﻟ ﻰَّﺘَﺣ َﺝَﺮَﺧ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺍْﻮُﻟﺎَﻘَﻓ ُﻪَﻟ َﺎﻤَﻛ .ﺍْﻮُﻟﺎَﻗ َﻝﺎَﻘَﻓ :ْﻢُﻬَﻟ ﺍْﻮُﻤِﺘْﻋَﺃ ِﻩِﺬَﻬِﺑ
،ِﺓَﻼَّﺼﻟﺍ ْﻢُﻜَّﻧِﺈَﻓ ْﺪَﻗ ْﻢُﺘْﻠَّﻀَﻓ ﺎَﻬِﺑ ﻰَﻠَﻋ ِﺮِﺋﺎَﺳ ِﻢَﻣُﺄْﻟﺍ ْﻢَﻟَﻭ
ﺎَﻬِّﻠَﺼُﺗ ٌﺔَّﻣُﺃ ْﻢُﻜَﻠْﺒَﻗ
“Kami menanti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam shalat isya (‘atamah), ternyata beliau
mengakhirkannya hingga seseorang menyangka
beliau tidak akan keluar (dari rumahnya).
Seseorang di antara kami berkata, “Beliau telah
shalat.” Maka kami terus dalam keadaan
demikian hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam keluar, lalu para sahabat pun
menyampaikan kepada beliau apa yang mereka
ucapkan. Beliau bersabda kepada mereka,
“Kerjakanlah shalat isya ini di waktu malam yang
sangat gelap (akhir malam) karena sungguh
kalian telah diberi keutamaan dengan shalat ini
di atas seluruh umat. Dan tidak ada satu umat
sebelum kalian yang mengerjakannya.” (HR. Abu
Dawud no. 421 dan dinyatakan shahih oleh Al-
Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Penjelasan ringkas:
Hukum asal dari shalat-shalat lima waktu
adalah dikerjakan di awal waktunya masing-
masing. Kecuali shalat isya, karena adany dalil-
dalil yang tegas menunjukkan disunnahkannya
untuk mengerjakan shalat isya di akhir malam.
Walaupun demikian, Rasulullah  tidaklah
mengharuskan umatnya untuk terus
mengerjakannya di akhir waktu disebabkan
adanya kesulitan. Dalam pelaksanaan shalat isya
berjamaah di masjid, beliau melihat jumlah
orang-orang yang berkumpul di masjid untuk
shalat, sedikit atau banyak. Sehingga terkadang
beliau menyegerakan shalat isya dan terkadang
mengakhirkannya. Bila beliau melihat para
makmum telah berkumpul di awal waktu maka
beliau mengerjakannya dengan segera. Namun
bila belum berkumpul beliau pun
mengakhirkannya.
Hal ini ditunjukkan dalam hadits Jabir
radhiyallahu ‘anhuma, ia mengabarkan:
َﻥﺎَﻛ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﻲِّﻠَﺼُﻳ َﺮْﻬُّﻈﻟﺍ
ِﺓَﺮِﺟﺎَﻬْﻟﺎِﺑ َﺮْﺼَﻌْﻟﺍَﻭ ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍَﻭ ٌﺔَّﻴِﻘَﻧ َﺏِﺮْﻐَﻤْﻟﺍَﻭ ﺍَﺫِﺇ ْﺖَﺒَﺟَﻭ
َﺀﺎَﺸِﻌْﻟﺍَﻭ ﺎًﻧﺎَﻴْﺣَﺃ ﺎَﻫُﺮِّﺧَﺆُﻳ ﺎًﻧﺎَﻴْﺣَﺃَﻭ ،ُﻞِّﺠَﻌُﻳ َﻥﺎَﻛ ﺍَﺫِﺇ ْﻢُﻫﺁَﺭ ِﺪَﻗ
ﺍْﻮُﻌَﻤَﺘْﺟﺍ َﻞَّﺠَﻋ ﺍَﺫِﺇَﻭ ْﻢُﻫﺁَﺭ ﺍْﻭُﺄَﻄْﺑَﺃ َﺮَّﺧَﺃ …
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
shalat zhuhur di waktu yang sangat panas di
tengah hari, shalat ashar dalam keadaan
matahari masih putih bersih, shalat maghrib
saat matahari telah tenggelam dan shalat isya
terkadang beliau mengakhirkannya, terkadang
pula menyegerakannya. Apabila beliau melihat
mereka (para sahabatnya/jamaah isya) telah
berkumpul (di masjid) beliau pun menyegerakan
pelaksanaan shalat isya, namun bila beliau
melihat mereka terlambat berkumpulnya, beliau
pun mengakhirkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 565
dan Muslim no. 1458)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
rahimahullahu berkata, “Yang afdhal/utama bagi
para wanita yang shalat di rumah-rumah
mereka adalah mengakhirkan pelaksanaan
shalat isya, jika memang hal itu mudah
dilakukan.” (Asy-Syarhul Mumti’ 2/116)
Bila ada yang bertanya, “Manakah yang lebih
utama, mengakhirkan shalat isya sendirian atau
melaksanakannya secara berjamaah walaupun
di awal waktu?” Jawabannya, kata Asy-Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
rahimahullahu, adalah shalat bersama jamaah
lebih utama. Karena hukum berjamaah ini wajib
(bagi lelaki), sementara mengakhirkan shalat
isya hukumnya mustahab. Jadi tidak mungkin
mengutamakan yang mustahab daripada yang
wajib. (Asy-Syarhul Mumti’ 2/116, 117)
[Penjelasan ringkas ini kami nukil dari: http://
http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1349%5D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: