Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Ucapan saat Idul Fithri

on August 3, 2013

Tak terasa kurang dari seminggu kita sudah
memasuki akhir bulan Ramadhan dan sebentar
lagi kita akan merayakan hari raya Idul Fithri.
Ucapan selamat, baik lewat SMS, email, facebook,
twitter, kakaotalk dan media lainnya mulai kita
terima. Di antaranya ada yang menggunakan
ungkapan Minal ‘Aidin wal Faizin, mohon maaf
lahir dan batin,
Nah, Ucapan minal ‘aidin wal faizin ini sering
sekali dijadikan ungkapan selamat dalam hari raya
Idul Fitri di negeri kita kalau kaum muslimin di
luar negeri tidaklah mempergunakan ucapan ini
untuk mengungkapkan selamat idul fitri, Mereka
biasa menggunakan, “Eid mubarak!” atau “Eid
Sa’id”, bukan “Minal a’idin wal faizin,” walaupun
di Malaysia dan Singapura mereka juga
mengucapkan, “Maaf zahir batin.”
Namun, tahukah Anda apa artinya? Atau jangan-
jangan Anda mengira arti minal ‘aidin wal faizin
adalah mohon maaf lahir dan batin?
Entah darimana asal ungkapan ini, namun yang
jelas ini sudah disebut-sebut dalam syair lagu
Ismail Marzuki (w. 1958),
Minal Aidin Wal Faizin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Et, Ini bukan berarti saya mengajak anda
bernyanyi..Tapi, Saya hanya ingin menunjukkan
bahwa ungkapan ini sudah dipakai jauh sebelum
Anda lahir, namun tetap saja masih banyak orang
yang belum tahu apa maknanya.
Berikut penjelasan ringkasnya :
ُﺪِﺋﺎَﻌْﻟَﺍ Al ‘Aaidu artinya adalah orang yang kembali,
merupakan bentuk pelaku (fa’il) dari kata kerja
(fi’il) َﺩﺎَﻋ ‘Aada yang artinya telah kembali.
Sedangkan َﻥْﻭُﺪِﺋﺎَﻌْﻟَﺍ Al ‘Aaiduuna merupakan
bentuk jamak (jamak mudzakkar salim) dari Al
‘Aaidu yang artinya menjadi orang-orang yang
kembali.‘
ُﺰِﺋﺎَﻔْﻟَﺍ Al Faaizu artinya adalah orang yang menang,
merupakan bentuk pelaku (fa’il) dari kata kerja
(fi’il) َﺯﺎَﻓ Faaza yang artinya telah menang,
sedangkan َﻥْﻭُﺰِﺋﺎَﻔْﻟَﺍ Al Faaizuuna merupakan
bentuk jamak (jamak mudzakkar salim) dari Al
Faaizu yang artinya menjadi orang-orang yang
menang.
Al ‘Aaiduuna dan Al Faaizuuna karena kemasukan
huruf jar ْﻦِﻣ min, sehingga menjadi majrur.
Karena kedua kata tersebut termasuk jenis jamak
mudzakkar salim, maka ketika majrur ْﻭ wawu
sukun diganti dengan ْﻱ ya’ sukun. Sehingga
menjadi َﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟَﺍ Al ‘Aaidiina dan َﻦْﻳِﺰِﺋﺎَﻔْﻟَﺍ Al
Faaiziina.
Dalam kalimat lengkapnya menjadi,
ْﻦِﻣ َﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟَﺍ َﻭ َﻦْﻳِﺰِﺋﺎَﻔْﻟَﺍ
“Min Al ‘Aaidiina wa Al Faaiziina”.
Jika ada huruf yang berharokat sukun yang
setelahnya ada alif lam dan sebelumnya
berharokat kasroh, untuk memudahkan
pembacaan maka huruf yang berharokat sukun
tadi diberi harokat fathah. Contoh :
ْﻦِﻣ َﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟَﺍ min al ‘aaidiina dibaca menjadi َﻦِﻣ
َﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟﺍ minal ‘aaidiina.
Dan jika ada hamzah washol, maka ketika di awal
kalimat maka cara membacanya diberi harokat
tergantung katanya, bisa fathah atau kasroh. Tapi
jika berada di tengah kalimat maka cara
membacanya dianggap tidak ada. Contoh :
Jika di awal kalimat maka dibaca َﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟَﺍ al
‘aaidiina, hamzahnya berharokat fathah. Jika
ditengah maka dibaca َﻦِﻣ َﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟﺍ minal ‘aaidiina,
hamzahnya dianggap tidak ada.
Jamak mudzakkar salim dalam keadaan majrur
jika diwaqafkan, maka huruf nun-nya diberi
harokat sukun. Contoh :
َﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟَﺍ al ‘aaidiina ketika disukun maka dibaca
menjadi ْﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟﺍ al ‘aaidiin.
Sehingga bisa dibaca menjadi :
َﻦِﻣ َﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟﺍ َﻭ َﻦْﻳِﺰِﺋﺎَﻔْﻟﺍ
“Minal ‘Aaidiin wal Faaiziin”.
Jika diartikan perkata maka :
ْﻦِﻣ Min artinya dari
َﻦْﻳِﺪِﺋﺎَﻌْﻟﺍ Al ‘Aaidiin artinya orang-orang yang
kembali
َﻭ Wa artinya dan
َﻦْﻳِﺰِﺋﺎَﻔْﻟﺍ Al Faaiziin artinya orang-orang yang
menang
Sehingga arti lengkapnya menjadi :
“Dari orang-orang yang kembali dan orang-orang
yang menang”.
Arti diatas terlihat masih susah dimengerti,
kalimatnya rancu. Memangnya Kita mau kembali
ke mana? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan?
Mungkin artinya ini kali..
“Termasuk orang yang kembali (merayakan hari
raya i’ed) dan orang-orang yang menang.”
atau
“(Semoga kamu) termasuk orang-orang yang
kembali dan orang-orang yang menang.”
Tapi yang pasti yang diinginkan disini adalah
sebuah doa bagi yang mendapat ucapan selamat,
yang pasnya mungkin begini :
“Semoga Anda termasuk orang yang kembali
(merayakan hari raya i’ed) dan orang-orang yang
menang.”
Jadi, jangan salah mengartikan dengan “Mohon
maaf lahir dan batin” lagi.
Lalu pertanyaannya, Bagaimanakah Cara
menjawab ucapan selamat idul fitri yang
benar… ?
Jawabannya adalah
ﻞﺒﻘﺗ ﻪﻠﻟﺍ ﺎﻨﻣ ﻢﻜﻨﻣﻭ
“Taqabbalallahu minnaa wa minkum” (yang
artinya): Semoga Allah menerima (ibadah) dari
kami dan dari kalian”
Dalilnya :
1. Dari Habib bin Umar Al-Anshari; bapaknya
bercerita kepadanya bahwa beliau bertemu
dengan –shahabat– Watsilah radhiallahu ‘anhu
ketika hari raya, maka aku ucapkan kepadanya,
“Taqabbalallahu minna wa minkum,” kemudian
beliau (Watsilah) menjawab, “Taqabbalallahu
minna wa minkum.” (H.r. Ad-Daruquthni dalam
Mu’jam Al-Kabir)
2. Dari Adham, mantan budak Umar bin Abdul
Aziz; beliau mengatakan, “Ketika hari raya, kami
menyampaikan ucapan kepada Umar bin Abdul
Aziz, ‘Taqabbalallahu minna wa minkum, wahai
Amirul Mukminin.’ Maka beliau pun menjawab
dengan ucapan yang sama dan beliau tidak
mengingkarinya.” (H.r. Al-Baihaqi)
3. Dari Syu’bah bin Al-Hajjaj; beliau mengatakan,
“Saya bertemu dengan Yunus bin Ubaid, dan saya
sampaikan, ‘Taqabbalallahu minna wa minka.’
Kemudian beliau jawab dengan ucapan yang
sama.” (H.r. Ad-Daruquthni dalam Ad-Du’a)
Allah berfirman,
ﺍَﺫِﺇَﻭ ْﻢُﺘﻴِّﻴُﺣ ٍﺔَّﻴِﺤَﺘِﺑ ﺍﻮُّﻴَﺤَﻓ َﻦَﺴْﺣَﺄِﺑ ﺎَﻬْﻨِﻣ ْﻭَﺃ ﺎَﻫﻭُّﺩُﺭ
“Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun
maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau
jawablah dengan yang semisal ….” (Q.s. An-
Nisa’:86)
Sehingga ucapan “Taqabbalallahu minnaa wa
minkum” lebih utama daripada ucapan “Minal
‘Aaidiin wal Faaiziin” Allah subhanahu wa ta’ala
dalam firmannya,
َﻥﻮُﻟِﺪْﺒَﺘْﺴَﺗَﺃ ﻱِﺬَّﻟﺍ َﻮُﻫ ٰﻰَﻧْﺩَﺃ ﻱِﺬَّﻟﺎِﺑ َﻮُﻫ ؟ٌﺮْﻴَﺧ
“Apakah kalian ingin mengambil sesuatu yang
rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (Al
Baqarah : 61)
Akan tetapi ada pendapat lain yang mengatakan
itu hanya ‘urf (kebiasaan/adat istiadat setempat)
saja, sehingga boleh mengatakan “Minal ‘Aaidiin
wal Faaiziin” atau “Taqabbalallahu minnaa wa
minkum” Karena orang-orang tidaklah
menjadikannya sebagai ibadah dan bentuk
pendekatan diri pada Allah. Selama itu hanyalah
adat (kebiasaan) yang tidak ada dalil yang
melarangnya, maka itu asalnya boleh.
Sebagaimana para ulama katakan, ‘Hukum asal
segala sesuatu adalah boleh. Sedangkan ibadah
itu terlarang dilakukan kecuali jika sudah ada
petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya [Majmu’
Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 16/128]
Allahu a’lam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: