Ordinary Human

Just Want To Be Usefull

Siapa Saja Mahram (Muhrim) Itu ?

on August 5, 2013

Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini Al
Makassari
Lebaran sebentar lagi, Pasti anda akan
Silaturahim ke rumah sanak-saudara, Nah untuk
itu Pastikan siapa Mahram anda, Hingga anda
halal untuk berjabat tangan dengannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ْﻥَﻷ َﻦَﻌْﻄُﻳ ﻲِﻓ ِﺱْﺃَﺭ ٍﻞُﺟَﺭ ٍﻂَﻴْﺨِﻤِﺑ ْﻦِﻣ ٍﺪﻳِﺪَﺣ ٌﺮْﻴَﺧ ُﻪَﻟ ْﻦِﻣ ْﻥَﺃ
َّﺲَﻤَﻳ ًﺓَﺃَﺮْﻣﺍ ﻻ ُّﻞِﺤَﺗ ُﻪَﻟ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari
besi, sungguh lebih baik baginya daripada
menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR.
Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh
Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Hadits ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman
perbuatan tersebut, Yang diancam dalam hadits
di atas adalah menyentuh wanita. Sedangkan
bersalaman atau berjabat tangan sudah termasuk
dalam perbuatan menyentuh.
Muhrim dan mahram, adalah dua istilah yang
sering terbalik-balik dalam percakapan
masyarakat. Terutama mereka yang kurang
perhatian dengan bahasa Arab. Padahal dua kata
ini artinya jauh berbeda. Memang teks arabnya
sama, tapi harakatnya beda. Teks arabnya:
ﻡﺮﺤﻣ
1. Muhrim (huruf mim dibaca dhammah dan ra’
dibaca kasrah) artinya orang yang melakukan
ihram. Ketika jamaah haji atau umrah telah
memasuki daerah miqat, kemudian dia
mengenakan pakaian ihramnya dan menghindari
semua larangan ihram, orang semacam ini
disebut muhrim. Dari kata Ahrama – yuhrimu –
ihraaman – muhrimun.
2. Mahram (huruf mim dan ra’ dibaca fathah)
artinya orang yang haram dinikahi karena sebab
tertentu. Mahram ini berasal dari kalangan
wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi
oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di
sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar
(perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan
dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya,
boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya
dari hukum-hukum mahram.
Mahram sendiri terbagi menjadi 3 kelompok,
yakni
– mahram karena nasab (keturunan),
– mahram karena penyusuan, dan
– mahram mushaharah (kekeluargaan kerena
pernikahan).
Kelompok pertama, yakni mahram karena
keturunan, ada tujuh golongan:
1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari
jalur laki-laki maupun wanita
2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan
seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki
maupun wanita
3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau
seibu
4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara
perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya
ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara
perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya
ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
6. Putri saudara perempuan (keponakan)
sekandung, seayah atau seibu, cucu
perempuannya dan seterusnya ke bawah baik
dari jalur laki-laki maupun wanita
7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau
seibu (keponakan), cucu perempuannya dan
seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki
maupun wanita
Mereka inilah yang dimaksudkan Allah subhanahu
wa ta’ala (yang artinya): “Diharamkan atas kamu
(mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang
perempuan, saudara-saudaramu yang
perempuan, saudara-saudara bapakmu yang
perempuan, saudara-saudara ibumu yang
perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-
saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan
dari saudara-saudaramu yang perempuan…” (An-
Nisa: 23)
Kelompok kedua, Mahram muabbad karena
persusuan (rodho’ah):
1. Wanita yang menyusui dan ibunya.
2. Anak perempuan dari wanita yang menyusui
(saudara persusuan).
3. Saudara perempuan dari wanita yang menyusui
(bibi persusuan).
4. Anak perempuan dari anak perempuan dari
wanita yang menysusui (anak dari saudara
persusuan).
5. Ibu dari suami dari wanita yang menyusui.
6. Saudara perempuan dari suami dari wanita
yang menyusui.
7. Anak perempuan dari anak laki-laki dari wanita
yang menyusui (anak dari saudara persusuan).
8. Anak perempuan dari suami dari wanita yang
menyusui.
9. Istri lain dari suami dari wanita yang menyesui.
Adapun jumlah persusuan yang menyebabkan
mahrom adalah lima persusuan atau lebih. Inilah
pendapat Imam Asy Syafi’i, pendapat yang
masyhur dari Imam Ahmad, Ibnu Hazm, Atho’
dan Thowus. Pendapat ini juga adalah pendapat
Aisyah, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Zubair.
Adapun kelompok ketiga, jumlahnya 4 golongan,
sebagai berikut:
1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya
ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.
2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah
berdasarkan An-Nisa: 23.
3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas
berdasarkan An-Nisa: 23.
4. Anak perempuan istri dari suami lain
(rabibah) , cucu perempuan istri baik dari
keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib,
dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa:
23.
Nomor 1, 2 dan 3 hanya menjadi mahram dengan
akad yang sah meskipun belum melakukan
jima’ (hubungan suami istri). Adapun yang
keempat maka dipersyaratkan bersama dengan
akad yang sah dan harus terjadi jima’, dan tidak
dipersyaratkan rabibah itu harus dalam
asuhannya menurut pendapat yang paling rajih
yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh
Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu. Dan mereka tetap
sebagai mahram meskipun terjadi perceraian atau
ditinggal mati, maka istri bapak misalnya tetap
sebagai mahram meskipun dicerai atau ditinggal
mati. Dan Rabibah tetap merupakan mahram
meskipun ibunya telah meninggal atau diceraikan,
dan seterusnya.
Selain yang disebutkan di atas, maka bukan
mahram. Jadi boleh seseorang misalnya menikahi
rabibah bapaknya atau menikahi saudara
perempuan dari istri bapaknya dan seterusnya.
Catatan:
Pertama, saudara ipar apakah mahram (muhrim):
Saudara ipar atau saudara perempuan istri (ipar)
atau bibi istri bukan termasuk mahram. bahkan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan
agar berhati-hati dalam melakukan pergaunlan
bersama ipar. Dalilnya: Ada seorang sahabat yang
bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana hukum
kakak ipar?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Saudara ipar adalah kematian.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Maksud hadis: Interaksi dengan kakak ipar bisa
menjadi sebab timbulnya maksiat dan
kehancuran. Karena orang bermudah-mudah
untuk bebas bergaul dengan iparnya, tanpa ada
pengingkaran dari orang lain. Sehingga
interaksinya lebih membahayakan daripada
berinteraksi dengan orang lain yang tidak
memiliki hubungan keluarga. Kondisi semacam ini
akan memudahkan mereka untuk terjerumus ke
dalam zina. Maka tidak boleh safar berdua
dengannya, berboncengan sepeda motor
dengannya, tidak boleh melihat wajahnya,
berjabat tangan, dan seterusnya dari hukum-
hukum mahram tidak berlaku padanya. Akan
tetapi tidak boleh menikahinya selama
saudaranya atau keponakannya itu masih sebagai
istri hingga dicerai atau meninggal. Hal ini
berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala
(yang artinya): “Dan (haram atasmu)
mengumpulkan dua wanita bersaudara sebagai
istri (secara bersama-sama).” (An-Nisa: 23)
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir As-Sa’di, Syarhul
Mumti’, 5/168-210)
Kedua, Sepupu bukan mahram
Karena itu, dalam islam kita dibolehkan menikahi
sepupu.
Ketiga, istri paman atau suami bibi, bukan
mahram.
Misal: Adi punya paman (Rudi), istri Rudi bukan
mahram bagi Adi. Atau Wati punya bibi (Ida),
suami Ida bukan mahram bagi Wati.
Allahu a’lam
Sumber :
http://kaahil.wordpress.com/2009/01/07/siapa-
saja-mahrammuhrim-itu/
http://www.konsultasisyariah.com/perbedaan-
muhrim-dan-mahram/
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/siapakah-mahra-anda.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: